Pada tahun 1974, Monsanto menemukan Roundup, herbisida yang saat ini paling laris di dunia. Roundup yang merupakan tambang emas bagi Monsanto adalah herbisida yang tujuannya untuk membuang rumput-rumput yang menggangu dari padang rumput atau kebun buah-buahan, ladang atau hutan-hutan pohon pinus yang luas.
Walaupun terus terjadi rintangan alam terhadap pertumbuhan penjualan Roundup, tetapi pada tahun 1996 volume penjualan Roundup tetap mengalami peningkatan hingga melampaui 20%. Pada tahun itu, penjualan herbisida ini menghasilkan lebih dari satu milyar dolar untuk Monsanto. Jika kita memakai terlalu banyak herbisida, ia tidak saja membunuh rumputrumput yang mengganggu, tetapi juga membunuh tanaman yang kita ingin lindungi.
Untuk mengatasi dilema itu, Monsanto menciptakan tanaman yang bisa menerima herbisida roundup, yang meliputi; Roundup ready kedelai, kapas, dan colza (sejenis tanaman berbunga kuning terang yang dari bijinya diambil minyak, dan daunnya dimanfaatkan untuk makanan domba dan babi). Para petani yang memakai bibit-bibit baru tersebut sejak saat itu bisa
menyemprotkan sejumlah Roundup secara tepat, tanpa beresiko menghancurkan hasil panen mereka. Statistik Kementerian Pertanian AS memperlihatkan peningkatan 72% pemakaian herbisida itu pada budidaya kedelai Roundup Ready pada tahun 1997. Bagi Monsanto, itu adalah kemenangan ganda: bukan saja meningkatkan penjualan herbisidanya, tetapi lebih lagi, ia menciptakan pasar untuk benih barunya.
Tetapi harus diingat bahwa keuntungan yang semakin tinggi dari penjualan herbisida berarti menimbulkan resiko lain yang semakin tinggi pula pada kesehatan dan lingkungan. Studi-studi ilmiah telah membuktikan hal itu. Roundup dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius pada para pekerja yang menanganinya (iritasi pada kulit, rasa mual, serangan pada paru-paru), dan herbisida itu dalam jangka panjang meracuni makanan yang diproduksi.
Pada bulan Maret 1999, peneliti-peneliti Swedia menyatakan bahwa herbisida itu meningkatkan risiko kanker dan merekomendasikan studi epidemiologik untuk masalah tersebut.
Apapun hasil studi yang dilakukan oleh lembaga lain mengenai resiko herbisida, Monsanto tetap bersikukuh pada produk herbisidanya dengan menegaskan bahwa tak ada yang lebih ekologis daripada glyphosate, produk kimia aktif dalam Roundup. Monsanto bahkan menyatakan “herbisida yang dihasilkannya sebagai yang paling menghormati lingkungan.” Seorang direktur Monsanto di Thailand bahkan mengatakan pada pers bahwa Roundup lebih tidak menyerang dibanding garam meja atau kopi.
Namun, jaksa penuntut negara bagian New York telah mewajibkan Monsanto untuk menarik istilah “biodegradable” dan “ekologis” dari iklan untuk Roundup.