Jan 3, 2012

Arti Penting Keanekaragaman Hayati

Jika kita menghancurkan keanekaragaman hayati, pada akhirnya langsung maupun tidak langsung tidak hanya menghancurkan spesies binatang tapi juga kehidupan kita sendiri.  Bagi banyak petani dan masyarakat asli di Selatan, ada kaitan langsung antara keberadaan keanekaragaman hayati dan kehidupan mereka.

Kebanyakan penghidupan tradisional tergantung pada tingkat keanekaragaman yang amat tinggi, baik secara kultural, hayati, maupun ekonomi; karenanya hilangnya keanekaragaman hayati akan mengancam kehidupan mereka. Sebagai contoh, masyarakat Indian Huastec di Meksiko membudidayakan 300 jenis tanaman di kebun kecil, di ladang pertanian dan hutan.

Di sebuah desa khas di Indonesia, tidak sulit menemukan seratus atau lebih spesies tanaman. Semuanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan tertentu: makanan, obat-obatan, bahan bangunan, kayu bakar, dan lain-lain.

Praktek mengumpulkan, memanen, dan membudidayakan sumberdaya yang langsung diperlukan untuk menopang kehidupan, dikembangkan selama berabad-abad dan disesuaikan secara cermat dengan kondisi lingkungan yang ada dan untuk itu seringkali penuh tantangan.

Hal ini memerlukan pemahaman yang dalam dan intensif mengenai tumbuhan, hewan, ekosistem, iklim, sifat tanah, dan faktor lain. Tanpa ini masyarakat akan mati.  Dikutip dari: Janet Bell dan Michael Pimbert, dalam Miges Baumann, Cs (penyuntuing), Bisnis Kehidupan, Read Book, 2001, halaman 4 dan 6.

Di Utara, keanekaragaman hayati juga amat penting walaupun kebanyakan orang berada jauh dari proses produksi pangan. Sistem pangan dan kesehatan amat bergantung pada tingkat keanekaragaman hayati. Tanpa ekspedisi (untuk koleksi) berkala di hutan-hutan, pasar, lahan pertanian, serta kebun rakyat di daerah Selatan, negara-negara industri tidak akan mampu memproduksi pangan seperti sekarang, dan tidak akan mempunyai beragam obat yang sekarang mereka kuasai. Ada kesalahpahaman umum bahwa aplikasi bioteknologi akan melepaskan ketergantungan Utara pada keanekaragaman hayati alami dan bahwa bioteknologi akan menjadi alat yang berguna untuk melestarikan dan meningkatkan keanekaragaman hayati.

Di negara-negara Selatanlah perspektif ‘alam steril’, yang secara menyeluruh dikendalikan oleh agrobisnis, telah menimbulkan reaksi yang paling hebat. Selama ini, delapan puluh persen (80%) petani dunia ketiga menggunakan kembali benih mereka dari tahun ke tahun, karena tidak bisa membeli stok baru setiap musim tanam. Terminator tidak memungkinkan cara itu dilakukan lagi. Akibatnya ketergantungan total petani kepada perusahaan multinasional penghasil benih tak terhindarkan.

Di India, ribuan petani turun ke jalan untuk memprotes penemuan itu. Hasilnya, sebagai tindakan pencegahan, pemerintah India melarang impor bibit gen “Terminator”.  Delegasi Afrika di FAO, organisasi PBB untuk makanan dan pertanian, juga telah menyatakan bahwa mereka menolak penggunaan gen “Terminator” di atas tanah-tanah Afrika. Mereka menyatakan bahwa hal itu adalah sebuah teknologi tinggi yang tidak memperbaiki apa-apa dalam produksi makanan.

Sebaliknya, teknologi itu bisa berakibat fatal.  Sebuah drama terjadi pada bulan Oktober 1999. Presiden Monsanto, Robert Shapiro, menyatakan di hadapan publik untuk tidak memperdagangkan “Terminator”. Perusahaan itu mencoba tetap percaya diri di hadapan para konsumen yang menolak pengenalan organisme yang dimodifikasi secara genetika di dalam makanan mereka. Tetapi pernyataan yang sempat dipublikasi secara luas di media itu tidak berhasil menghentikan penyebarannya.

Jika Monsanto mengatakan tidak akan “mengkomersialkan” teknik sterilisasi itu di masa yang akan datang, Delta & Pine Land Co sebaliknya menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan untuk mengembangkan teknologi serupa guna melindungi investasi mereka. Akhirnya, dalam situasi krisis, pada bulan Januari 2000 raksasa teknologi itu mengumumkan tidak akan melanjutkan upaya membeli perusahaan Delta & Pine Land Co, dan melepas hak paten yang sangat kontrovesial itu.

Sebagai akibat secara tiba-tiba menghentikan pembelian kembali yang sedang diproses itu, Monsanto bisa dituntut untuk membayar denda 8 juta dolar kepada Delta & Pine Land Co. Sementara itu, di laboratorium-laboratorium Monsanto dan pesaingpesaingnya (Novartis, Astra Zeneca, Pioneer Hi-Breed, Rhône-Poulent, DuPont, dan lain-lain) para peneliti sedang bekerja di depan pipa-pipa mereka untuk menemukan teknik-teknik sterilisasi yang semakin canggih. Sebuah organisasi dari Kanada, RAFI telah mendokumentasi 20-an paten untuk teknik pengendalian gen yang dihasilkan oleh 12 lembaga berbeda.

No comments:

Post a Comment