Jika kita menghancurkan keanekaragaman
hayati, pada akhirnya langsung maupun tidak langsung tidak hanya menghancurkan
spesies binatang tapi juga kehidupan kita sendiri. Bagi banyak petani dan masyarakat asli di
Selatan, ada kaitan langsung antara keberadaan keanekaragaman hayati dan
kehidupan mereka.
Kebanyakan penghidupan tradisional
tergantung pada tingkat keanekaragaman yang amat tinggi, baik secara kultural,
hayati, maupun ekonomi; karenanya hilangnya keanekaragaman hayati akan
mengancam kehidupan mereka. Sebagai contoh, masyarakat Indian Huastec di
Meksiko membudidayakan 300 jenis tanaman di kebun kecil, di ladang pertanian
dan hutan.
Di sebuah desa khas di Indonesia, tidak
sulit menemukan seratus atau lebih spesies tanaman. Semuanya digunakan untuk
memenuhi kebutuhan tertentu: makanan, obat-obatan, bahan bangunan, kayu bakar,
dan lain-lain.
Praktek mengumpulkan, memanen, dan
membudidayakan sumberdaya yang langsung diperlukan untuk menopang kehidupan,
dikembangkan selama berabad-abad dan disesuaikan secara cermat dengan kondisi
lingkungan yang ada dan untuk itu seringkali penuh tantangan.
Hal ini memerlukan pemahaman yang dalam
dan intensif mengenai tumbuhan, hewan, ekosistem, iklim, sifat tanah, dan
faktor lain. Tanpa ini masyarakat akan mati.
Dikutip dari: Janet Bell dan Michael Pimbert, dalam Miges Baumann, Cs
(penyuntuing), Bisnis Kehidupan, Read Book, 2001, halaman 4 dan 6.
Di Utara, keanekaragaman hayati juga amat penting walaupun
kebanyakan orang berada jauh dari proses produksi pangan. Sistem pangan dan kesehatan
amat bergantung pada tingkat keanekaragaman hayati. Tanpa ekspedisi (untuk
koleksi) berkala di hutan-hutan, pasar, lahan pertanian, serta kebun rakyat di
daerah Selatan, negara-negara industri tidak akan mampu memproduksi pangan
seperti sekarang, dan tidak akan mempunyai beragam obat yang sekarang mereka
kuasai. Ada kesalahpahaman umum bahwa aplikasi bioteknologi akan melepaskan
ketergantungan Utara pada keanekaragaman hayati alami dan bahwa bioteknologi
akan menjadi alat yang berguna untuk melestarikan dan meningkatkan keanekaragaman
hayati.
Di negara-negara Selatanlah perspektif ‘alam steril’, yang secara
menyeluruh dikendalikan oleh agrobisnis, telah menimbulkan reaksi yang paling
hebat. Selama ini, delapan puluh persen (80%) petani dunia ketiga menggunakan
kembali benih mereka dari tahun ke tahun, karena tidak bisa membeli stok baru
setiap musim tanam. Terminator tidak memungkinkan cara itu dilakukan lagi.
Akibatnya ketergantungan total petani kepada perusahaan multinasional penghasil
benih tak terhindarkan.
Di India, ribuan petani turun ke jalan untuk memprotes penemuan
itu. Hasilnya, sebagai tindakan pencegahan, pemerintah India melarang impor
bibit gen “Terminator”. Delegasi Afrika
di FAO, organisasi PBB untuk makanan dan pertanian, juga telah menyatakan bahwa
mereka menolak penggunaan gen “Terminator” di atas tanah-tanah Afrika. Mereka
menyatakan bahwa hal itu adalah sebuah teknologi tinggi yang tidak memperbaiki
apa-apa dalam produksi makanan.
Sebaliknya, teknologi itu bisa berakibat fatal. Sebuah drama terjadi pada bulan Oktober 1999.
Presiden Monsanto, Robert Shapiro, menyatakan di hadapan publik untuk tidak
memperdagangkan “Terminator”. Perusahaan itu mencoba tetap percaya diri di
hadapan para konsumen yang menolak pengenalan organisme yang dimodifikasi
secara genetika di dalam makanan mereka. Tetapi pernyataan yang sempat
dipublikasi secara luas di media itu tidak berhasil menghentikan penyebarannya.
Jika Monsanto mengatakan tidak akan “mengkomersialkan” teknik
sterilisasi itu di masa yang akan datang, Delta & Pine Land Co sebaliknya
menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan untuk mengembangkan teknologi serupa
guna melindungi investasi mereka. Akhirnya, dalam situasi krisis, pada bulan
Januari 2000 raksasa teknologi itu mengumumkan tidak akan melanjutkan upaya membeli
perusahaan Delta & Pine Land Co, dan melepas hak paten yang sangat
kontrovesial itu.
Sebagai akibat secara tiba-tiba menghentikan pembelian kembali
yang sedang diproses itu, Monsanto bisa dituntut untuk membayar denda 8 juta
dolar kepada Delta & Pine Land Co. Sementara itu, di
laboratorium-laboratorium Monsanto dan pesaingpesaingnya (Novartis, Astra
Zeneca, Pioneer Hi-Breed, Rhône-Poulent, DuPont, dan lain-lain) para peneliti
sedang bekerja di depan pipa-pipa mereka untuk menemukan teknik-teknik sterilisasi
yang semakin canggih. Sebuah organisasi dari Kanada, RAFI telah
mendokumentasi 20-an paten untuk teknik pengendalian gen yang dihasilkan oleh
12 lembaga berbeda.
No comments:
Post a Comment