Mar 2, 2013

Roundup: Racun Paling Laris di Dunia


Pada tahun 1974, Monsanto menemukan Roundup, herbisida yang saat ini paling laris di dunia. Roundup yang merupakan tambang emas bagi Monsanto adalah herbisida yang tujuannya untuk membuang rumput-rumput yang menggangu dari padang rumput atau kebun buah-buahan, ladang atau hutan-hutan pohon pinus yang luas. 

Walaupun terus terjadi rintangan alam terhadap pertumbuhan penjualan Roundup, tetapi pada tahun 1996 volume penjualan Roundup tetap mengalami peningkatan hingga melampaui 20%. Pada tahun itu, penjualan herbisida ini menghasilkan lebih dari satu milyar dolar untuk Monsanto.  Jika kita memakai terlalu banyak herbisida, ia tidak saja membunuh rumputrumput yang mengganggu, tetapi juga membunuh tanaman yang kita ingin lindungi. 

Untuk mengatasi dilema itu, Monsanto menciptakan tanaman yang bisa menerima herbisida roundup, yang meliputi; Roundup ready kedelai, kapas, dan colza (sejenis tanaman berbunga kuning terang yang dari bijinya diambil minyak, dan daunnya dimanfaatkan untuk makanan domba dan babi). Para petani yang memakai bibit-bibit baru tersebut sejak saat itu bisa

menyemprotkan sejumlah Roundup secara tepat, tanpa beresiko menghancurkan hasil panen mereka. Statistik Kementerian Pertanian AS memperlihatkan peningkatan 72% pemakaian herbisida itu pada budidaya kedelai Roundup Ready pada tahun 1997. Bagi Monsanto, itu adalah kemenangan ganda: bukan saja meningkatkan penjualan herbisidanya, tetapi lebih lagi, ia menciptakan pasar untuk benih barunya. 

Tetapi harus diingat bahwa keuntungan yang semakin tinggi dari penjualan herbisida berarti menimbulkan resiko lain yang semakin tinggi pula pada kesehatan dan lingkungan. Studi-studi ilmiah telah membuktikan hal itu.  Roundup dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius pada para pekerja yang menanganinya (iritasi pada kulit, rasa mual, serangan pada paru-paru), dan herbisida itu dalam jangka panjang meracuni makanan yang diproduksi. 

Pada bulan Maret 1999, peneliti-peneliti Swedia menyatakan bahwa herbisida itu meningkatkan risiko kanker dan merekomendasikan studi epidemiologik untuk masalah tersebut.

Apapun hasil studi yang dilakukan oleh lembaga lain mengenai resiko herbisida, Monsanto tetap bersikukuh pada produk herbisidanya dengan menegaskan bahwa tak ada yang lebih ekologis daripada glyphosate, produk kimia aktif dalam Roundup. Monsanto bahkan menyatakan “herbisida yang dihasilkannya sebagai yang paling menghormati lingkungan.” Seorang direktur Monsanto di Thailand bahkan mengatakan pada pers bahwa Roundup lebih tidak menyerang dibanding garam meja atau kopi.

Namun, jaksa penuntut negara bagian New York telah mewajibkan Monsanto untuk menarik istilah “biodegradable” dan “ekologis” dari iklan untuk Roundup. 

Jan 23, 2013

Agent Orange: Prestasi Monsanto dalam Perang


Monsanto adalah salah satu penghasil agent orange, suatu defolian (bahan kimia penggugur daun) yang ditebarkan angkatan bersenjata Amerika di hutan-hutan tropis musuh selama perang Vietnam, dari 1962 sampai 1971. Agent orange merupakan kombinasi dua herbisida, yaitu herbisida 2,4,D dan 2,4,5-T. Penggunaan Agent orange dalam perang Vietnam dimaksudkan untuk  menghancurkan tanaman dan hutan dalam jangka panjang, dengan demikian mencegah tentara Vietkong bersembunyi dan memperoleh sumber makanan mereka. 

Tetapi kenyataannya Agent orange bukan saja menghancurkan hutan dan tanaman. Konsentrasi dioksin yang besar memiliki konsekuensi mengerikan terhadap penduduk setempat: kanker, cacat tubuh, penyakit kulit, dan lain-lain. Diperkirakan 500.000 bayi yang lahir di Vietnam sejak tahun 1960 menderita cacat akibat dioksin. Prajurit-prajurit AB Amerika Serikat juga tidak dapat diselamatkan. 

Hanya saja mereka berada pada posisi yang lebih baik dibanding penduduk Vietnam dalam menuntut atas kerugian mereka. Para veteran perang yang mendapat simptom akibat defolian tersebut membawa para pembuatnya ke pengadilan. Monsanto akhirnya harus membayar 45% untuk kerugian total 180 juta dolar yang dibayarkan kepada para veteran oleh tujuh penghasil agent orange. Dalam jawabannya pada dokumen yang dipublikasikan oleh Le Courrier International, Monsanto meminta bahwa proses itu diselesaikan dengan ‘cara damai’ dan terus meyakinkan bahwa tidak ada satu pun pengaruh buruk serius untuk kesehatan yang bisa dihubungkan dengan defolian itu.”