Jan 9, 2012

Monsanto: Berkubang dalam Industri Pencemaran


Di seluruh penjuru dunia, “Terminator” telah menimbulkan suara hingar bingar luar biasa. Tetapi produk Monsanto yang menimbulkan kepanikan tidak hanya “Terminator”. Sejak diciptakan, banyak produknya yang menimbulkan reaksi keras dari para buruh di pabrik, di pinggir sungai, atau para konsumen. 

Monsanto Chemical Company didirikan tahun 1901, di Saint-Louis, Missouri, oleh John Francis Queeny, seorang ahli kimia otodidak. Dialah yang mengenalkan kepada Amerika Serikat teknik fabrikasi sakarin dari Jerman, gula tiruan yang pertama. Pada tahun 1920-an, Monsanto menjadi salah satu penghasil utama asam sulfur dan produk industri dasar lainnya.

Dengan sangat cepat, perusahaan itu mengkhususkan diri pada produksi bahanbahan mencemari dan beracun. Pada tahun 1940-an, Monsanto memusatkan kegiatannya pada bahan-bahan plastik dan sintetik. Lalu pabrik menghasilkan polystyren, plastik yang terutama digunakan untuk pembungkus makanan.

Produksi itu menghasilkan limbah yang sangat beracun sehingga polystyren kemudian oleh badan Amerika untuk perlindungan lingkungan (EPA) didudukkan pada uturan kelima sebagai produk paling berbahaya. Pada waktu yang sama, Monsanto mengembangkan keluarga baru produk kimia, bernama PCB, yang sasarannya untuk bahan industri listrik dan berbagai produksi industri.

Sudah sejak tahun 1930-an kita tahu bahwa produk-produk itu sangat beracun. Karena racun itu tidak dirasakan hingga bertahun-tahun, ia menumpuk di jaringan lemak sepanjang sistem makanan dalam tubuh. Para peneliti telah menemukannya berkonsentrasi di dalam darah, bulu, dan lemak hewan liar. Manusia, yang juga bertempat di puncak rantai makanan, secara khusus peka terhadap penumpukan PCB.

Sebuah kajian yang dilakukan di AS tahun 1974 mengungkap kehadiran PCB di dalam 99% contoh susu ibu yang diambil. Produk kimia itu mengakibatkan kanker dan bertanggung jawab untuk serangkaian kekacauan kekebalan, gangguan perkembangan janin, dan reproduksi. Sekarang ini PCB dilarang di banyak negara, tetapi masih tersisa dalam jumlah banyak – hampir 180.000 ton – yang disimpan di negara-negara dunia ketiga.

No comments:

Post a Comment