Alam memiliki kemampuan menghasilkan dan menggandakan secara
spontan. Itulah yang memungkinkan pertanian berkembang selama beriburibu tahun.
Sekarang ini, para penjual benih melihat kemampuan alam itu sebagai bencana
perdagangan yang sesungguhnya.
Jika para petani memelihara dan menanam biji-bijian yang mereka
panen tahun sebelumnya, para pembuat benih kehilangan pasar yang luar biasa
besar. Karena itu, pasar benih harus dicengkeram kuat. Salah satu cara yang
paling efektif adalah melalui bibit steril : terminator.
Jika kita menanam sesuatu, normalnya tanaman itu akan menghasilkan
bijibijian, tetapi yang satu ini tidak bisa lagi ditanam ulang. Jika kita ingin
memulai lagi, harus membeli persediaan benih baru dan membayar tunai kepada
pabrik yang memproduksinya. “Terminator,” merupakan perwujudan mimpi kapitalis
yang paling mengerikan.
Pada bulan Maret 1998, Badan Paten Amerika memberikan sebuah paten
atas sistem pertama sterilisasi genetika kepada Kementerian Pertanian Amerika dan
perusahaan swasta Delta and Pine Land Co. Prinsipnya sederhana, yaitu,
memasukkan suatu gen “pembunuh” ke dalam genetika suatu tanaman yang akan
memblokir perkecambahan.
Dengan keluarnya paten tersebut, teknologi “terminator” yang terkenal itu sudah lahir.
Belum lagi dua bulan sesudah itu, Monsanto menawarkan satu milyar dolar untuk membeli
perusahaan Delta and Pine Land Co. beserta paten yang penuh kontroversi itu.
Walaupun hanya diujikan pada tanaman tembakau dan kapas, proses itu sudah
dipatenkan untuk semua budidaya.
Delta and Pine Land Co. memperkirakan ia dapat menghasilkan sampai
1,5 milyar dolar setiap tahun dan menyebar pada sekitar 400 juta hektar tanaman
budidaya, terutama di negara-negara sedang berkembang. Cina dan India menjadi
incaran karena sangat sulit mengawasi “pembajakan” benih yang dipatenkan di
negaranegara besar itu. Menteri Pertanian Amerika menyatakan bahwa teknik itu
akan dengan cepat menyebar sehingga para petani tidak lagi punya pilihan lain
selain membeli bibit yang hanya bisa dipakai satu kali itu.
” Teknologi “Terminator” telah membangkitkan gerakan protes,
bahkan sampai ke wilayah yang umumnya mendukung bioteknologi. Jaringan pusat
penelitian agronomik internasional yang terbesar, CGIAR, telah secara resmi
menolak prinsip itu. Jika tanaman tidak lagi secara alami menghasilkan, kita
akan menyaksikan suatu pemiskinan keanekaragaman hayati, tanaman-tanaman yang
tumbuh berdekatan juga bisa menjadi steril (karena bias pollen-serbuk sari),
pekerjaan penyeleksian dan perbaikan bibit akan menjadi tidak mungkin. Dan
keseluruhan pertanian akan dihambat evolusinya.
No comments:
Post a Comment