Jan 17, 2012

Terminator: Teknologi untuk Menciptakan Ketergantungan Petani

Alam memiliki kemampuan menghasilkan dan menggandakan secara spontan. Itulah yang memungkinkan pertanian berkembang selama beriburibu tahun. Sekarang ini, para penjual benih melihat kemampuan alam itu sebagai bencana perdagangan yang sesungguhnya.

Jika para petani memelihara dan menanam biji-bijian yang mereka panen tahun sebelumnya, para pembuat benih kehilangan pasar yang luar biasa besar. Karena itu, pasar benih harus dicengkeram kuat. Salah satu cara yang paling efektif adalah melalui bibit steril : terminator.

Jika kita menanam sesuatu, normalnya tanaman itu akan menghasilkan bijibijian, tetapi yang satu ini tidak bisa lagi ditanam ulang. Jika kita ingin memulai lagi, harus membeli persediaan benih baru dan membayar tunai kepada pabrik yang memproduksinya. “Terminator,” merupakan perwujudan mimpi kapitalis yang paling mengerikan.

Pada bulan Maret 1998, Badan Paten Amerika memberikan sebuah paten atas sistem pertama sterilisasi genetika kepada Kementerian Pertanian Amerika dan perusahaan swasta Delta and Pine Land Co. Prinsipnya sederhana, yaitu, memasukkan suatu gen “pembunuh” ke dalam genetika suatu tanaman yang akan memblokir perkecambahan.

Dengan keluarnya paten tersebut, teknologi  “terminator” yang terkenal itu sudah lahir. Belum lagi dua bulan sesudah itu, Monsanto menawarkan satu milyar dolar untuk membeli perusahaan Delta and Pine Land Co. beserta paten yang penuh kontroversi itu. Walaupun hanya diujikan pada tanaman tembakau dan kapas, proses itu sudah dipatenkan untuk semua budidaya.

Delta and Pine Land Co. memperkirakan ia dapat menghasilkan sampai 1,5 milyar dolar setiap tahun dan menyebar pada sekitar 400 juta hektar tanaman budidaya, terutama di negara-negara sedang berkembang. Cina dan India menjadi incaran karena sangat sulit mengawasi “pembajakan” benih yang dipatenkan di negaranegara besar itu. Menteri Pertanian Amerika menyatakan bahwa teknik itu akan dengan cepat menyebar sehingga para petani tidak lagi punya pilihan lain selain membeli bibit yang hanya bisa dipakai satu kali itu.

” Teknologi “Terminator” telah membangkitkan gerakan protes, bahkan sampai ke wilayah yang umumnya mendukung bioteknologi. Jaringan pusat penelitian agronomik internasional yang terbesar, CGIAR, telah secara resmi menolak prinsip itu. Jika tanaman tidak lagi secara alami menghasilkan, kita akan menyaksikan suatu pemiskinan keanekaragaman hayati, tanaman-tanaman yang tumbuh berdekatan juga bisa menjadi steril (karena bias pollen-serbuk sari), pekerjaan penyeleksian dan perbaikan bibit akan menjadi tidak mungkin. Dan keseluruhan pertanian akan dihambat evolusinya. 

No comments:

Post a Comment